Hubungan Turki dan Eurasia (21)

Dalam program kami kali ini, kita akan menganalisis pemilihan presiden Perancis dan dampak yang mungkin pada hubungan Turki - Perancis.

Hubungan Turki dan Eurasia (21)

Pada pemilihan presiden di Perancis, kandidat dari En Marche! (Bergerak!) Emmanuel Macron, (Macron: 66,1% Le Pen: 33,9%) menang. Dengan jumlah suara 74,6% untuk putaran kedua adalah rendah. Abstain lebih tinggi (11,5%). Pemilih macron yang terdaftar sesuai dengan hasil ini hanya bisa mendapatkan 43,6% dari pemilihan. Oleh karena itu, orang-orang yang tidak pergi memilih dan pemilih yang abstain merupakan blok ketiga yang menentang kedua kandidat tersebut.

Macron setahun yang lalu bukanlah seorang politisi terkenal. Ia merupakan menteri ekonomi di kabinet Presiden Hollande. Ia mendirikan Gerakan En Marche! setelah keluar dari Partai Sosialis. Dalam waktu singkat ia menjadi Presiden terpilih termuda Perancis. Kemenangan Macron disambut antusias Eropa. Liberal dan sosial demokratis politisi Macron lihat sebagai penyelamat Eropa dan Uni Eropa. Hasil ini meyakinkan Barat dalam hal kebijakan luar negeri. Karena kepentingan besar pada platform internasional Macron yang menempatkan kehadiran dan misi Uni Eropa. 

Macron menyarankan ide-ide baru dan proyek-proyek untuk masalah ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh Perancis. Oleh karena itu juga mendapat dukungan dari berbagai sektor masyarakat. Namun, terdapat ujian yang serius sebelum itu. Tersedia dalam masalah ekonomi yang serius. Masalah-masalah ini dapat tumbuh hingga tahun 2020 pada anggaran Perancis. Perancis menjadi negara yang sudah berjuang dengan masalah ekonomi. Jika langkah-langkah serius tidak diambil sekarang, mungkin akan kehilangan julukan sebagai negara yang sejahtera.

 

Setelah pemilihan presiden Perancis, dalam periode yang singkat (pada 11 Juni), akan dilakukan pemungutan suara untuk anggota parlemen. Di putaran pertama, wakil calon yang setidaknya mendapatkan 50%, akan dipilih langsung ke parlemen. Sedangkan kandidat yang dibawah 50%, akan melakukan putaran kedua pemilihan untuk kursi parlemen. Di putaran kedua pada 18 Juni, kandidat yang mendapatkan 12,5% suara atau lebih di putaran pertama, akan bergabung dengan kandidat lain. Di putaran kedua calon yang menerima suara terbanyak akan terpilih sebagai anggota parlemen.

Perusahaan publik riset opinionway-SLPV Analytics baru-baru ini merilis sebuah survei untuk putaran kedua pemilihan. Menurut survei, En Marche! bisa mendapatkan 535 dari 577 daerah yaitu sekitar 249 hingga 286 anggota parlemen. Dengan memperoleh 290 kursi mereka hampir mencapai mayoritas (289 kursi diperlukan untuk mayoritas). Seperti hasil jajak pendapat Macron ini, politisi kanan-tengah kini mencari dukungan. Macron yang memilih sendiri perdana menteri dengan menunjuk Edouard Philippe dari politisi kanan-tengah, kita dapat menafsirkan sebagai langkah ke arah ini.

Ini menyimpulkan bahwa kemenangan Macron, tidak berarti bahwa terjadi xenophobia, Turcophobic dan arus Islamofobia di Perancis. Sedangkan 33% dari orang Le Pen, menunjukkan bahwa tren ini semakin kuat. Setelah pemilu di Perancis, kita dapat mengatakan ekstrim kanan di Eropa telah menjadi aktor politik yang penting. Sayangnya, ekstrim kanan di Eropa, politisi Eropa (karena Turcophobic dan kebijakan Islamofobia), mereka makan dengan tangan mereka sendiri. Satu-satunya cara untuk memecahkan masalah ini dalam jangka pendek adalah untuk menyertakan Turki ke Uni Eropa. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghindari ditawan oleh ekstrim kanan dari benua Eropa.

Sulit diprediksi pada saat ini bagaimana mengikuti kebijakan yang menyangkut isu-isu kebijakan luar negeri Macron untuk Turki. Karena tidak ada sejarah panjang kebijakan oleh pemimpin muda. En Marche! juga adalah partai baru. Menurut kesan pertama kami tentang Macron adalah pemimpin yang dapat bekerja sama untuk di banyak daerah dengan Turki. Mungkin Presiden Turki Erdoğan dan Presiden Prancis Macron, akan melakukan pertemuan usai pertemuan puncak NATO di Brussels di akhir Mei ini. Saya menduga Macron akan melanjutkan kebijakan perbaikan hubungan dengan Turki pada periode Hollande. Memang Macron saat ini sedikit menyampaikan masalah Turki dan keanggotaan Turki Uni Eropa. Tapi kita tahu bahwa dalam sebuah pernyataan ia menekankan perlunya untuk tidak menutup pintu Uni Eropa untuk Turki.  

Baru-baru ini Turki dihadapkan dengan standar ganda seperti di Austria, Jerman, Belanda, negara-negara Uni Eropa dan memiliki masalah. Namun kebijakan Perancis lebih komprehensif terhadap Turki dan berbagai topik seperti tentang krisis Suriah dengan Turki. Untuk pemulihan hubungan Perancis dengan Turki satu sama lain, ada manfaat strategis bagi kedua negara untuk bekerja sama di Eropa dan Suriah. Pertemuan presiden Macron dan Erdoğan dalam pertemuan puncak NATO, bisa menjadi kesempatan untuk hal tersebut.

 

Program Hubungan Turki dan Eurasia karya Peneliti Cemil Doğaç İpek dari Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Atatürk.

Penerjemah: Ibnu Sina Meliala



Berita Terkait